Kamis, 01 Maret 2012

Jangan Colek Brajamolek (Bima Treas)

reff


Hey BRAJAMOLEK jangan coba dicolek
garis keras bisa marah awas nanti jadi parah
mending semua bernyanyi hilangkan duka hati
BRAJAMUSTI disini PSIM sampai mati




Stadion meledak BRAJAMUSTI bersorak 
birukan lapangan semangatkan pertandingan
cepat-cepatlah datang tak perlu bawa pedang
cukup bawalah uang untuk beli tiket dan kacang




Coba lihat disana berkumpul wanita 
cantik seksi manis sungguh-sungguh mempesona 
dialah BRAJAMOLEK srikandi BRAJAMUSTI
suporter wanita yang sungguh cantik jelita


back too reff 2


Hey BRAJAMOLEK bikin pria pada melek
awas nanti bisa marah jangan sampai kau mencolek 
mending semua bernyanyi hilangkan duka hati
BRAJAMUSTI disini PSIM sampai mati

BATTOSAI TOTAL RIOT

PSIM 1929




PSIM Yogyakarta
logo
Nama lengkapPersatuan Sepak Bola Incridible Mataram
Didirikan5 September 1929
StadionStadion Nasional Mandala Krida
YogyakartaNgayogyakarta
(Kapasitas: 60.000 orang)
PemilikPemerintah Kota Yogyakarta
KetuaBendera Kiribati Drs. Agus Purwanto
ManajerBendera Kiribati Aji Sutarto
PelatihBendera Indonesia Maman Durachman
LigaNgayogyakarta Premier League
Situs webSitus web resmi klub
Kostum kandang
Kostum tandang
PSIM. kependekan dari Persatuan Sepak Bola Incridible Mataram adalah sebuah klubsepak bola di Ngayogyakarta yang didirikan pada 5 September 1929 dengan nama awal Persatuan Sepakraga Mataram (PSM). Nama Mataram digunakan karena Yogyakartamerupakan pusat pemerintahan kerajaan Mataram (Ngayogyakarta Hadiningrat). Kemudian pada tanggal 27 Juli 1930 nama PSM diubah menjadi PSIM seperti yang dikenal sekarang. Salah satu pemain PSIM yang menjadi legenda bagi sepak bola Indonesia adalah R. Maladi yang merupakan kiper PSIM dalam kompetisi Perserikatan 1931.
Saat ini PSIM berlaga di Kompetisi Ngayogyakarta Premier League, dengan pelatih Maman Durachman. PSIM memiliki kelompok suporter yang bernama Brajamusti (Brayat Jogja Mataram Utama Sejati).
|} |} Sejarah terbentuknya PSIM dimulai pada tanggal 5 September 1929 dengan lahirnya organisasi sepak bola yang diberi nama Perserikatan Sepak Raga Mataram atau disingkat PSM. Nama Mataram digunakan karena Yogyakarta merupakan pusat kerajaan Mataram. Kemudian pada tanggal 27 Juli 1930 nama PSM diubah menjadi Perserikatan Sepak Bola Indonesia Mataram atau disingkat PSIM sebagai akibat tuntutan pergerakan kebangsaan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. PSIM sendiri saat itu sesungguhnya merupakan suatu badan perjuangan bangsa dan Negara Indonesia.
Pada tanggal 19 April 1930, PSIM bersama dengan VIJ Jakarta, BIVB Bandung, MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun) SIVB (Persebaya Surabaya), VVB (Persis Solo) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. PSIM dalam pertemuan tersebut diwakili oleh HA Hamid, Daslam, dan Amir Noto. Setelah melalui perbagai pertemuan akhirnya disepakati berdirinya organisasi induk yang diberi nama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (PSSI) pada tahun 1931 dan berkedudukan di Yogyakarta.
Sejak tahun itu pulalah kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. Dalam kompetisi perserikatan, PSIM pernah menjadi juara pada tahun 1932 setelah dalam pertandingan final di Jakarta mengalahkan VIJ Jakarta. Selanjutnya PSIM berkali -kali hanya dapat menduduki peringkat kedua setelah kalah dalam pertandingan final kompetisi perserikatan pada tahun 1939, 1940, 1941, 1943, dan 1948.
Sejak Liga Indonesia bergulir pada tahun 1994, prestasi PSIM mengalami pasang surut yang ditandai dengan naik turunnya PSIM dari divisi utama ke divisiI Liga Indonesia. PSIM pernah mengalami degradasi pada Liga Indonesia 1994/1995 dan promosi dua tahun kemudian. Setelah bertanding selama tiga musim di divisi utama, PSIM kembali harus terdegradasi ke Divisi I pada musim kompetisi 1999/2000.
Tiga tahun kemudian pada Divisi I Liga Indonesia 2003 PSIM baru bangkit dan membidik target untuk promosi dengan persiapan tim yang matang. Di babak penyisihan PSIM bahkan dua kali mengkandaskan tim favorit Persebaya Surabaya dalam pertandingan tandang kandang dengan skor telak 3-1, dan 3-0, dan menjuarai Grup C. Sayangnya keperkasaan PSIM semakin lama semakin luntursehingga gagal melanjutkan dominasinya pada babak 8 besar yang berlangsung dengan kompetisi penuh. PSIM yang sejak awal memimpin klasemen harus puas berada di peringkat ke-4, dan berkesempatan untuk mengikuti playoff. Di babak playoff yang dimainkan di Solo, PSIM kalah bersaing dengan Persela Lamongan hanya karena perbedaan jumlah gol.
Akhirnya, pada tahun 2005 PSIM berhasil lolos ke kasta tertinggi liga indonesia setelah keluar sebagai juara divisi I yang dalam pertandingan final mengalahkan Persiwa Wamena di stadion Si Halak Harupat Bandung dengan skor 2-1. Mulai 2010 PSIM semakin eksis di kancah sepakbola nasional dengan prestasi yang semakin meningkat dan akhirnya mulai kompetisi 2011/2012 PSIM telah menjadi tim profesional yang tidak lagi mengandalkan dana dari APBD.




Pendukung Sejati PSIM JOGJA 1929

BRAJAMUSTI

Brajamusti...... 
Sebuah Kata yang bermakna sangat besar..... 
Disini Tempat Aku melepas Bosan Dari kepenatan hidup.... memang karena dia aku bisa berteriak dan bersorak kegirangan dan melepas segala kesuntukan. 

Setiap saat aku pengen bilang "sayang", "cinta", "kangen" . 

Semua darah Ini sudah biru karena dia...maka ketahuilah bahwa Dimana PSIM Berlaga aku Pasti ada disana Bersama Brajamustiku akan bersorak dan teriakkan kemenangan... PSIM is my Blood.... 


_____________________ 
Brajamusti Yang Ngedukung PSIM sampe Kapanpun....

Rabu, 29 Februari 2012

Sejarah Brayat Jogja Mataram Utama Sejati (BRAJAMUSTI)

Sejarah terbentuknya PSIM dimulai pada tanggal 5 September 1929 dengan lahirnya organisasi sepak bola yang diberi nama Perserikatan Sepak Raga Mataram atau disingkat PSM. Nama Mataram digunakan karena Yogyakarta merupakan pusat pemerintahan kerajaan Mataram. Kemudian pada tanggal 27 Juli 1930 nama PSM diubah menjadi Perserikatan Sepak Bola Indonesia Mataram atau disingkat PSIM sebagai akibat tuntutan pergerakan kebangsaan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. PSIM sendiri saat itu sesungguhnya merupakan suatu badan perjuangan bangsa dan Negara Indonesia.
Pada tanggal 19 April 1930, PSIM bersama dengan VIJ Jakarta, BIVB Bandung, MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun) SIVB (Persebaya Surabaya), VVB (Persis Solo) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. PSIM dalam pertemuan tersebut diwakili oleh HA Hamid, Daslam, dan Amir Noto. Setelah melalui perbagai pertemuan akhirnya disepakati berdirinya organisasi induk yang diberi nama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (PSSI) pada tahun 1931 dan berkedudukan di Mataram
Sejak tahun itu pulalah kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. Dalam kompetisi perserikatan, PSIM pernah menjadi juara pada tahun 1932 setelah dalam pertandingan final di Jakarta mengalahkan VIJ Jakarta. Selanjutnya PSIM berkali -kali hanya dapat menduduki peringkat kedua setelah kalah dalam pertandingan final kompetisi perserikatan pada tahun 1939, 1940, 1941, 1943, dan 1948.
Sejak Liga Indonesia bergulir pada tahun 1994, prestasi PSIM mengalami pasang surut yang ditandai dengan naik turunnya PSIM dari divisi utama ke divisiI Liga Indonesia. PSIM pernah mengalami degradasi pada Liga Indonesia 1994/1995 dan promosi dua tahun kemudian. Setelah bertanding selama tiga musim di divisi utama, PSIM kembali harus terdegradasi ke Divisi I pada musim kompetisi 1999/2000.
Tiga tahun kemudian pada Divisi I Liga Indonesia 2003 PSIM baru bangkit dan membidik target untuk promosi dengan persiapan tim yang matang. Di babak penyisihan PSIM bahkan dua kali mengkandaskan tim favorit Persebaya Surabaya dalam pertandingan tandang kandang dengan skor telak 3-1, dan 3-0, dan menjuarai Grup C. Sayangnya keperkasaan PSIM semakin lama semakin luntursehingga gagal melanjutkan dominasinya pada babak 8 besar yang berlangsung dengan kompetisi penuh. PSIM yang sejak awal memimpin klasemen harus puas berada di peringkat ke-4, dan berkesempatan untuk mengikuti playoff. Di babak playoff yang dimainkan di Solo, PSIM kalah bersaing dengan Persela Lamongan hanya karena perbedaan jumlah gol.
Akhirnya, setelah lama berjuang menggapai tiket promosi ke divisi utama, PSIM berhasil meraihnya pada Divisi I Liga Indonesia 2005. Bahkan PSIM berhasil menjadi juara kompetisi setelah menaklukan Persiwa Wamena 2-1 dalam final yang digelar di Stadion Jalak Harupat, Soreang, Bandung, 4 September 2005. Gol kemenangan PSIM ditentukan oleh tendangan penalti yang dieksekusi oleh M.Erwin pada menit ke-49.
PRESTASI
- Liga Indonesia 1994/1995 : Peringkat 17 Wilayah Timur (Degradasi)
- Liga Indonesia 1995/1996 : Divisi I Liga Indonesia 1996/1997 : Juara Dua Divisi I(Promosi)
- Liga Indonesia 1997/1998 : Peringkat 10 Wilayah Tengah (Liga dihentikan)
- Liga Indonesia 1998/1999 : Peringkat 5 Wilayah Tengah
- Liga Indonesia 1999/2000 : Peringkat 14 Wilayah Timur (Degradasi)
- Liga Indonesia 2001 : Peringkat 3 Grup Tengah I Divisi I
- Liga Indonesia 2002 : Peringkat 5 Grup 2 Divisi I
- Liga Indonesia 2003 : Peringkat 3 Playoff Divisi I
- Liga Indonesia 2004 : Peringkat 6 Wilayah Barat Divisi I
- Liga Indonesia 2005 : Juara Divisi I (Promosi)
- Liga Indonesia 2006 : Mengundukan diri dari kompetisi bersama PSS Sleman & Persiba Bantul Karena Jogja terkena Gempa Bumi.